Rabu, 22 April 2015

Putri Jamban Kena Getahnya


Bagi siapa saja yang cukup aktif memantau social media, pasti familiar dengan foto-foto nyeleneh mengenai jamban. Dimulai dari pintu bilik yang hanya menutupi separuh bagian atas tubuh pengguna toilet duduk, atau terdapat banyak jamban di dalam satu bilik, bahkan ada juga yang jambannya rusak karena si pengguna toilet duduk tidak mengerti bagaimana seharusnya menggunakan toilet duduk (duh, kampungan ya?!), dan lain-lain dan lain-lain.

Pertanyaanya: dalam kehidupan nyata pernah gak sih menemukan hal-hal jamban abnormal semacam itu? Hmmmmm…sialnya, saya pernah! Sial banget, deh!

Siang itu saya berada di suatu pulau yang letaknya teramat jauh dari rumah. Pulau Antamani namanya, salah satu pulau yang saya singgahi saat mengambil paket tour lokal di kota Puno, Peru. Tepatnya di suatu restoran yang menyajikan makanan dengan rasa seadanya, namun memanjakan pelanggan dengan pemandangan yang bisa dibilang….yaaaah, lumayan lah. Ada hamparan bukit-bukit hijau yang seakan menyatu dengan danau dengan volume paling besar se-Amerika Selatan ini. Jadi, pulau ini memang terdapat di danau, bukan di laut.

Di restoran bersama teman-teman trip


Kembali lagi ke restoran. Selepas memesan menu paling normal, yaitu ikan panggang dengan nasi, saya memutuskan untuk check-in di toilet yang tersedia di restoran. “Biar bisa menikmati makan siang dengan lebih khusyuk”, pikir saya. Terdapat dua toilet unisex yang kebetulan kosong di salah satu unitnya. Dengan suka cita saya langsung masuk ke dalam bilik yang tidak besar itu, tanpa memperhatikan keberadaan sebuah tong besar yang penuh dengan air bersih, tepat di depan toilet. Disinilah pengalaman lucu-lucu berbahaya itu terjadi.

Menu makanan di restoran. Ini udah menu yang paling normal bagi ukuran orang Indonesia dibanding menu lainnya.


Sebagai seorang perempuan yang selalu membawa hand sanitizer di tas tangannya, wajar dong kalau saya sangat memperhatikan kebersihan WC umum. Terlebih jika WC yang tersedia berupa WC duduk. Otomatis saya merasa penting untuk memberi alas pada dudukan toilet dengan tissue atau sejenisnya. Rasanya gak rela kan kalau kulit saya harus bersentuhan langsung dengan dudukan toilet yang hanya-Tuhan-yang-tau apa yang pernah terjadi disitu. Namun kenyataan tidak berpihak pada saya, gulungan tissue yang dibutuhkan tidak tersedia di dalam bilik. Ya sudah mau bagaimana lagi, mau gak mau saya harus jongkok di toilet duduk tersebut. Setelah mengambil ancang-ancang seraya berpegangan pada dinding, saya pun menjejakkan kaki sebelah kanan saya di satu sisi toilet sambil mengangkat kaki kiri saya. Namun betapa terkejutnya saya……ada gempa bumiiiiiii…...ya Tuhan, jantung serasa jatuh ke lubang WC akibat guncangan itu. Eh, tapi tunggu, ternyata ini bukan gempa bumi! Toiletnya copot dari lantai dan doyong 45 derajat, bersandar ke dinding. Guncangan air di dalam lubang toilet terlihat seperti ombak lautan yang bertemu bibir pantai. Beberapa potongan kecil (dan besar) dari keramik toilet pun dengan menyedihkannya terkulai di lantai.

Ampun deh, hal konyol seperti ini kok bisa bisanya terjadi sama saya sih? Ya amplop, sial banget siang ini. Tapi kalau-kalau ada yang tanya, untungnya saya tidak terkena cipratan air. Air apapun itu. Hahahaha. Tidak tunggu lama, dengan cueknya – seolah-olah tidak ada yang terjadi – saya keluar dari bilik kesialan dan masuk ke bilik yang-diharapkan-sebagai-bilik-keberuntungan. Kebetulan ada seorang tamu restoran yang baru keluar di bilik tersebut, tersenyum penuh arti kepada saya. Kelihatannya dia mendengar kegaduhan yang saya sebabkan. Bodo amat, deh. Hahahaha.

Di bilik yang baru ini terbitlah harapan baru, agar saya bisa buang air kecil dengan puas dan bahagia. Dan itu memang terjadi, sebelum saya menyadari bahwa kenyataan pahit yang kedua harus di hadapi. Flush di toiletnya tidak berfungsi, jek. Lho iki piye carane? Dengan malu-malu kucing garong saya mengintip ke luar, ternyata tong besar berisikan air itu memang disediakan untuk menyiram toilet yang telah selesai dipergunakan. Ya ampun, ada-ada saja sih.

Setelah saya ingat-ingat lagi, rumah penduduk yang saya inapi di pulau yang berbeda juga memiliki kondisi yang sama. Toilet duduk yang terlihat modern tidak difungsikan dengan maksimal, alias menggunakan flush alami. Sungguh disayangkan, padahal rasa-rasanya mereka tidak kekurangan air deh. Mungkin toilet duduk itu hanya simbol kemakmuran buat mereka. Yang penting ada saja dulu, tidak perduli berfungsi atau tidak. Ini tidak ada bedanya dengan kebiasaan yang melekat pada sebagian warga perkampungan di Indonesia, dimana kulkas digunakan sebagai lemari baju *kedip-kedip

Setelah kejadian yang menarik ini, apakah saya masih mau jongkok di toilet duduk lagi? Yang jelas, saya sudah menjadi korban. Sayangnya korban kebodohan diri sendiri. Hahahahaha. 


Apakah kalian punya pengalaman jamban yang serupa?

Minggu, 19 April 2015

Di balik Perjalanan Panjang Lintas Benua dan Samudra, Di awali dari Cerita Ini

“Travel alert! Maskapai Cathay Pacific (CX) tujuan New York hanya US$460 return untuk periode Oktober hingga November 2014!”.

Isi pesan di bbm group dari si mas Toton tersebut sontak menyedot perhatian saya, yang pagi itu masih malas-malasan di kasur menjadi terbelalak – meski mata saya tergolong minimalis – selebar-lebarnya. Seketika group chat yang beranggotakan para penggemar jalan-jalan itu menjadi ramai dengan diskusi singkat dan kebut-kebutan. Hari itu adalah Jumat minggu ke-tiga di bulan Januari 2014.

Teman yang memberikan info ternyata sudah lebih dulu membeli tiket ke New York di malam sebelumnya, tidak lama setelah ia mendapatkan info dari group Backpacker Dunia. Kontan saya dan satu orang teman bernama Reancy, tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam website Cathay Pacific untuk melakukan proses booking. Jika bookingan berhasil, perjalanan ini akan menjadi kali pertama saya ke negara adidaya tersebut. Artinya, saya harus siap jika tiket yang saya beli nanti hangus apabila aplikasi visa Amerika saya ditolak. Minimal saya akan kehilangan beberapa ratus dollar deh sebagai potongan biaya administrasi dari pihak maskapai jika kelak visa tidak tembus.

Tidak mau tanggung, Reancy dan saya langsung memilih tanggal keberangkatan di bulan Oktober, dengan rentang waktu kepulangan maksimal yang diizinkan untuk jenis tiket kelas ekomoni promo. Maksudnya, tanggal pergi dan pulang tidak boleh lebih dari satu bulan.  Hohoho satu bulan untuk dihabiskan di Negara Paman Sam. Ya, saya berpikir untuk mengambil unpaid leave selama satu bulan. “Masih ada sembilan bulan lagi untuk persiapan”, pikir saya pagi itu.

Usaha pertama untuk issue tiket mengalami kegagalan teknis. Lalu sambil berusaha untuk tetap tenang (atau pura-pura tenang sambil harap-harap cemas), saya pun langsung mencoba untuk yang kedua kalinya. Kali ini tiket berhasil di issued dan nomer kode booking yang dinanti pun menari-nari di layar handphone. Selama beberapa saat saya hanya bisa termenung memandangi layar smartphone Korea berlayar lebar tersebut . Hati dan pikiran ini dipenuhi dengan rasa tidak percaya dan rasa tidak nyata. Ini murni khayalan, kan?! Soalnya, percaya atau tidak, pada hari Senin di minggu yang sama, saya sempat bilang ke teman: “gue dooong lagi browsing tiket ke New York” (dan Afrika Selatan…dan Negara Scandinavia…dan lain sebagainya) tanpa ada niat atau dorongan yang kuat untuk benar-benar ngetrip dalam waktu dekat. Jadi, hanya murni browsing-browsing sambil ngayal babu di waktu luang. Namun, mana mungkin sih terbit keisengan untuk cari tau harga tiket pesawat jika hati kecil tidak sejalan?

Setelah semua confirmed, dan sudah merasa lebih yakin dibanding sebelumnya, buru-buru saya mengabari seorang teman yang kala itu sedang bermukim di sebuah kota yang hanya berjarak empat jam perjalan darat dari New York. Rupanya ia juga tidak percaya jika saya tidak mengirimkan bukti berupa print screen tiket. Gak heran sih, saya saja masih agak tidak percaya kok dengan keberuntungan ini.

Penuh dengan tanda tanya, apa gerangan yang membuat tiket ke kota dengan perbedaan waktu 12 jam dengan Jakarta bisa semurah itu? Apakah ada kesalahan dari pihak maskapai ataukah ada hacker yang berusaha mengambil keuntungan? Dengan tingkat ke-kepo-an yang sangat tinggi dan dada yang masih berdebar-debar, sekitar 30 menit kemudian saya mencoba kembali masuk ke website. Ya Tuhan, harga tiket sudah kembali pada kisaran normal untuk low season, yaitu sekitar US$1300 untuk return ticket. Rasa lega, lemas yang berlebihan mendadak datang. Seandainya tadi disertai pemikiran dan pertimbangan yang terlalu lama, saya akan kehilangan kesempatan yang mungkin gak akan terulang dalam 1000 tahun ke depan!

Usut punya usut, ternyata harga tiket yang error adalah kesalahan pihak Cathay Pacific yang salah memasukkan harga. Harga pokok yang mungkin seharusnya US$1100 hanya diinput US$110. Maka setelah ditambah dengan pajak, total biaya yang tertera hanya US$460. Akibat kurang satu angka nol, lho…cateeeeet!

Well, kalau dipikir secara logika, saya merasa ini suatu kebetulan yang agak bertubi-tubi sih. Tidak sampai sebulan sebelumnya, saya memanjatkan doa kepada Tuhan di tanah suci agar dibukakan pintu kesempatan untuk lebih banyak melihat dunia.  Ternyata Tuhan menjawabnya dengan cara yang tidak pernah diduga sebelumnya. Dia mengatur, melalui tangan seseorang yang telah salah menginput harga, untuk mengantar saya sampai ke New York. Suatu kota yang secara lebay saya katakan berada dibalik bumi Indonesia. Bayangin deh! Ini rejeki nomplok, takdir anak sholeh :p  Nah, sekarang saatnya bilang: Alhamdulillah. 

Jumat pagi itu menjadi titik awal dalam kisah saya dalam sembilan bulan ke depan. Dimana sedikit demi sedikit terkuak banyak hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Mengenai pengetahuan, keberanian dan keputusan untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Ehem, secara tidak langsung cuman mau bilang kalo saya anak yang agak pemberani = ))))

Jadi, secara singkat inilah latar belakang yang menjadi pemicu saya dalam memulai perjalanan sejauh ribuan miles untuk melihat dunia luar. Cerita berikutnya segera datang.

Minggu, 08 Desember 2013

Hari ke-6: Kep. Komodo – Labuan Bajo, 16 Des 2012



Pagi hari setelah menyelesaikan sarapan, kami semua langsung menuju pintu masuk Pulau Komodo, yang dikenal dengan nama Loh Liang. Pintu masuk pulau ini tampak lebih cantik dibanding Rinca. Hampir sama seperti di Rinca, petugas meminta kami untuk memilih jalur trekking. Berikut pilihannya: (1) trek ringan selama 1 jam, (2) trek sedang sekitar 1,5jam, (3) trek berat selama 2jam, (4) trek petualang selama 6jam.

Di hari kedua trekking komodo, kami kembali menaiki sebuah bukit. Spot yang amat terkenal bernama Sulphurea Hill. Namun sayang, pemadangan indahnya dinodai oleh sebuah baliho besar yang disponsori oleh TELKOMSEL. Huuuuuu, nyebelin banget, sih! Sebagai informasi aja, di sepanjang pulau Flores, memang hanya Telkomsel yang memiliki sinyal. 



Atas: pintu masuk ke Pulau Komodo
Bawah: Sulphurea Hill

Sejauh ini, trekking di pulau Komodo ternyata tidak terlalu mengerikan. Entah karena perilaku komodo yang sedang anteng, atau karena tidak terlalu banyak komodo yang terlihat atau karena sudah berpengalaman trekking di Rinca kemarin? Sampai-sampai Emil dan gue jalan duluan dan sempat terpisah dengan rombongan. Lho? Sempat lupa nih kalau komodo bisa saja sedang berada di dekat situ... Seorang Ranger yang sedang membawa rombongan kecil menegur, dia meminta agar kami kembali pada rombongan dan tidak mengijinkan untuk kami ikut masuk dalam pengawalannya. Kalau dipikir-pikir, bahaya juga ya kalau lengah seperti ini.

Selesai ber-trekking ria, kami sempat duduk di sebuah restoran yang masih di dalam  area P. Komodo. Restoran (dan juga semua bangunan lainnya) berupa rumah panggung. Oleh karena itu, bersiap-siaplah melihat kumpulan komodo yang sedang asyik bersantai di bawah rumah panggung tersebut. Disini adalah area yang paling mudah jika kamu ingin berfoto dengan sang naga. Jangan lupa minta Ranger untuk menjaga ya!



Dermaga Loh Liang (pintu masuk ke Pulau Komodo)

Suasana saat trekking di pulau komodo


Saat menuju keluar kembali ke kapal, terdapat jejeran warung penjual souvenir. Waah, boleh juga nih. Pilihan dijatukan pada magnet kulkas yang terbuat dari ukiran kayu berbentuk komodo. Hasil tawar menawar, Rp25,000,- untuk 2 buah. Begitu kami hampir mendekati kapal, seekor komodo tampak melintas di pantai. Teman-teman sibuk menjepret dengan kameranya masing-masing. Tetep ya gak bosen-bosen? Melihat hal ini, seorang Ranger menawarkan apakah kami ingin melihat Komodo datang bergerombol? Caranya dengan membeli daging dan mengangin-nganginkan di udara…harapannya agar komodo dari berbagai arah akan datang dan saling berebutan makanan. Tentu ini tidak mudah dan  membutuhkan jumlah Ranger yang cukup banyak. Kami pun menolak tawaran tersebut. 

Sedekar informasi, kalau kalian tidak mau menyewa  kapal, cukup datang ke Pulau Komodo dengan kapal regular dengan biaya yang terjangkau. Hanya beberapa puluh ribu saja, kok. Disini juga tersedia penginapan. Ada yang tertarik?

Lanjut ke karang makasar, yang merupakan spot snorkeling dimana kita bisa berenang bersama Manta. Manta itu mirip (atau memang sama, ya?) dengan ikan Pari. Di dekat sinilah momen dimana Malkus, Susan dan Bram tidak bisa kembali ke kapal karena arus bawah yang terlalu kuat untuk ditambah jarak yang sudah lumayan jauh. Terpaksa sebuah kapal diutus untuk menjemput mereka bertiga. Ckckck, nyusahin ya lo pada :p

Berikutnya adalah Pulau Kanawa. Kami berlayar pada sisi dimana lautan tidak dibatasi oleh deretan pulau. Oleh karena itu, hanya disini saja kami sempat merasakan ombak. Jangan bayangkan ombak besar, ya! Hanya saja, berlayar selama 2 hari di air yang begitu tenang memberikan kesan tersendiri.

Di Pulau Kanawa banyak terdapat penginapan, mulai dari kamar hingga tenda. Tapi bisa bayangin gak panasnya siang hari bolong di tenda? Yaudah, gue gak bakal banyak bacot deh, liat aja nih foto-fotonya……


Dermaga di Pulau Kanawa


Dari atas Pulau Kanawa


Sore yang sendu, kami harus kembali ke Bajo. Besok, kami harus segera kembali ke aktivitas masing-masing. Selamat tinggal, Flores!

Satu hal tentang liburan kali ini: Flores….. Awesome destination, awesome weather, awesome friends = AWESOME VACATION.


NB: Foto-foto diatas adalah koleksi dari rekan-rekan seperjalanan

Hari ke-5: Labuan Bajo – Kepulauan Komodo, 15 Nov 2012



Masih dari TreeTop, pagi ini dimulai dengan merapikan carrier 60L yang tersohor itu. Meskipun sebagian barang yang tidak dibutuhkan sudah dikeluarkan, namun ransel hijau tua yang jauh dari kata anggun tersebut tetap terasa (dan terlihat) padat. Sementara ada teman yang bahkan hanya membawa jinjingan kecil…. lucu juga kalau mengingat muka-muka melongo saat menyadari betapa besarnya ransel gue :D

Begitu siap untuk menuju pelabuhan – meski tanpa mandi – dengan percaya diri gue melangkah keluar dari TreeTop. Dua orang bule ABG yang lagi nongkrong di teras menatap ke arah saya. Duh, nyaris ge-er! Tapi akhirnya gue sadar….mereka silih berganti memandang antara ukuran carrier dan tinggi badan pemiliknya, kemudian saling senyum liat-liatan satu sama lain. Deeem, mereka pasti lagi ngetawain gue, nih!


Tas Carrier Eiger 60L


Group kami berlayar menggunakan 2 kapal, syukurlah cuaca hari ini begitu bersahabat. Kapal seakan berlayar di atas agar-agar….begitu tenang tanpa ombak. Di kanan dan di kiri, berjejer pulau-pulau kemarau yang seolah membentengi pelayaran ini. Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Kelor. Pulau yang bisa ditempuh dalam waktu 30 menit ini tidak berpenghuni. Sepertinya memang tidak populer sebagai area bermain air. Tapi tunggu dulu, lihat foto-foto di bawah ini...

Dari Puncak Pulau Kelor







Puas berpanas-panasan di Pulau Kelor, kami kembali berlayar dan menuju Pulau Rinca. Pelayaran diisi dengan makan siang lalu menjadi model dan fotographer dadakan di geladak kapal. Sandal kuning dan sandal pink menjadi sorotan. 

Di gerbang masuk Rinca yang dinamai Loh Buaya, kita disambut oleh Ranger yang bertugas mengawal perjalanan. DEG DEG DEGan…. akhirnya melihat bisa melihat sang naga secara live! Kalian pasti sudah sering dengar betapa ganasnya binatang peninggalan purbakala ini, kan? Katanya: komodo bisa berlari secepat kilat, bisa berenang, bisa mencium bau darah hingga kiloan meter, bisa memanjat pohon dan dipersenjatai dengan air liur yang penuh bakteri berbahaya. Wah, kurang HOROR apa lagi, coba? Belum lagi berbagai kisah penyerangan komodo, bahkan terhadap ranger sendiri. Di Rinca, dikabarkan bahwa ukuran komodo relatif lebih kecil dibandingkan rekan-rekannya yang berada di pulau komodo. Artinya, besar kemungkinan komodo disini dapat bergerak jauh lebih lincah. Hmmm…

Sebelum memulai trekking, kita diminta untuk memilih jenis trek sesuai kemampuan dan keinginan. Jenis trek terbagi menjadi 3 macam: (1) trek ringan selama 1 jam, (2) trek sedang sekitar 1,5jam, (3) trek berat selama 2jam. Saat itu kami sepakat memilih trek yang ringan saja. Para ranger sudah mewanti-wanti agar kami tidak “sok tau” dan keluar dari rombongan. Pokoknya harus tetap waspada, jika ada komodo melintas biarkan dia lewat terlebih dahulu. Sebisa mungkin jangan menenteng tas, atau membiarkan tali-temali tas beruntai-untai. Kalau tidak, bisa-bisa komodo akan menyangka kita membawa makanan untuk mereka, begitu kata si Ranger. Ranger juga dilengkapi dengan “senjata” berupa tongkat kayu yang bercabang di ujungnya. Sekilas sih, “senjata” ini terlihat lemah. Biaya masuk sebesar Rp2,500,- bagi wisatawan local, dan Rp20,000,- untuk wisman.


Dari atas bukit di Rinca





Kanan: anak komodo di dalam lubang di atas pohon







Sang Ranger menunjukkan lokasi favorit para Komodo. Terdapat seekor komodo yang terlihat malas, gemuk dan seolah tak peduli dengan kami. Tapi jangan terkecoh, meski tidak dalam posisi aba-aba, jika ia merasa terganggu, akselerasi penyerangan bisa terjadi secepat kilat. Kemudian kami beralih ke tempat lain, si Ranger menunjukkan seekor anak komodo yang sedang bertengger di pohon. Wah, mendadak gue menghayal: apa jadinya kalo dia loncat ke atas kepala? Jalan setapak kami susuri lagi…terlihat seekor rusa melintas. Terus melangkah, kami sampai pada diatas suatu bukit yang wow….cantik sekali. Dari atas bukit terlihat ceruk lautan yang nyaris seperti lukisan. Tentu saja, kamera harus disiapkan!

Selesai dari Rinca, kami langsung menuju P. Komodo. Bukan untuk trekking, melainkan snorkeling…mungkin lebih dari 1 jam kami berlayar. P. Komodo terletak di sisi terjauh dari rangkaian Kep. Komodo. Jika dari Labuan Bajo kalian langsung menuju kesini, siapkan waktu sekitar 4 jam, ya. 

Dari kejauhan terlihat beberapa kapal sedang dilabuhkan agak jauh dari tepi pantai. Dan ABK lalu mengumumkan bahwa kami sudah sampai ke sebuah surga taman laut. Pemirsa….selamat datang di PINK BEACH!   


Narsis teruus





Kapal besar memang tidak diperbolehkan untuk menepi ke pantai, dikhawatirkan bisa merusak karang-karang laut yang tersebar di sepanjang pantai. Untuk mendapati pink beach, kita wajib terjun di tengah laut dan berenang ke tepian. Sebagian teman yang sudah turun duluan memperingatkan: “hati-hati, arus bawah lautnya deraaas sekali!” Tapi gak ngaruh, gue harus turun! Jadi, memang disini terkenal dengan arus bawah yang lumayan kencang. Atau bisa jadi di jam-jam tertentu saja ya.. karena saat itu memang sudah jam 4 sore. ABK sempat berpesan: “kalau kalian terbawa arus, NIKMATIN aja!” Belakangan ketahuan kalau Chedy yang berbadan layaknya body builder pun, harus berjuang keras untuk melawan arus saat kembali ke kapal. Ia pun sempat menggigil sedemikian rupa karena terkena air dengan suhu yang cukup rendah.

Pemandangan bawah laut disini memang dasyat, deh! Coral-coral dengan berbagai warna, anemon yang menari-nari, berbagai jenis ikan termasuk Nemo – favorit gue – berenang kian kemari. Tapi sayang, beberapa bagian memang tampak sudah hancur. Terfokus menuju ke pantai, gue melupakan esensi snorkeling itu sendiri, untuk melihat kian kemari. Sungguh amat disesali, rasanya kurang lincah “berburu” spot yang cantik. Dua doa: (1) Mudah-mudahan suatu hari bisa kembali kesini lagi, (2) Mudah-mudahan coralnya tidak tambah rusak! Begitu mendarat di pantai pink – yang tidak terlihat pink – teman-teman pun sibuk bergaya di depan kamera. Jangan khawatir, katanya….katanya lho, komodo tidak bermain-main di wilayah ini. Seperti tadi gue bilang, pink beach terletak di sisi pulau Komodo, namun tidak ada seorang Ranger pun yang akan mengawal kalian disini. 

Saat senja tiba, kami menepi ke Kampung Komodo yang letaknya dekaaat sekali dari pink beach. Kapal pun ditambatkan di dermaga. Sempet terpikirkan oleh teman-teman untuk membajak kapal dan kembali ke pink beach esok hari *balada tidak puas* hehehe. Kampung Komodo (dan juga Pulau Kambing) memang cukup lazim menjadi lokasi peristirahatan kapal wisata, sebab perairannya yang hampir selalu tenang. Di kapal, kami bergantian mandi. Ingat, hemat air ya! Satu orang hanya dapat jatah 1 ember air bersih saja. Tapi rupanya peraturan hemat air tidak berlaku di kapal teman kami (kapal yang lebih besar). Di kapal itu air pancuran mengalir dengan kencang, nyaris dipastikan bahwa mereka menggunakan air laut dan bukan air bersih yang dibawa dari Bajo. Malam hari, Bram, David, Emil dan gue menyempatkan diri menjelajah ke Kampung Komodo yang kondisi penduduknya cukup menyedihkan.

Wajah anak-anak di Kampung Komodo

Suasana Kampung Komodo

Sedikit cerita mengenai kapal yang kami tumpangi, kapal yang berukuran sedang (sedang itu relatif, ya) ini mampu menampung sekitar 7-8 orang. Fasilitasnya berupa: 3 ABK, 1 toilet, dapur, dek atas untuk bermalam, kabin bawah yang bisa menampung 2 orang, dan “ruang keluarga” multi fungsi. ABK sendiri yang menyediakan makan pagi-siang-malam untuk kami. Eits, jangan berburuk sangka dulu ya…masakan mereka endaaaang, lho!

Things we do on da boat



Hari yang dipenuhi momen LUAR BIASA ini ditutup oleh taburan bintang-bintang yang begituuuuu….begituuuuu…..*speechless*

NB: Foto-foto diatas adalah koleksi dari rekan-rekan seperjalanan